Saturday, April 10, 2021

Bahasa Pemersatu #2

Puisi ini disusun dari esai berjudul, "Bahasa Indonesia di tengah Kapitalisme (Pos/Hiper) Modern : Masih Adakah “Keajaiban Ketiga?" (P. Ari Subagyo)

 

Pengantar

Karl Marx cermat menulis Das Kapital :

Kritik der Poitischen Oekonomie

Futurolog handal, kritikus utama

ramalkan kehadiran komunikasi

Yang mecerahkan dan tak akan ada habisnya

Mewujud rupa internet

jadi jagad dunia maya

Tapi Marx lupa

Kapitalisme punya alat bernama Bahasa

 

Kebenaran itu tidak sulit dijelaskan

Tengok Volosinov dalam Marxism and the philosophy of Language

Kress dan Hodge di Language as Ideology

Bakhtin di The Dialogical Imagination

Fairclough di dalam Language and Power

Van Dijk di Discourse, Power, and Access

Wodak dalam Disorders of Discourse

Mereka melihat Bahasa menunjukkan Ideologi

Ideologi itu jiwanya

Bahasa itu raganya

Jadi karena Kapitalisme itu ideologi

Ia pakai bahasa sebagai piranti eksistensi

Kehadiran dan pewarisan dalam propaganda

Kapitalisme membangun bahasa jadi kata,

idiom dan ungkapan yang khas

Ia menjelma makhluk yang hidup di dalamnya

 

Bahkan Fairclough bersaksi

dalam Language and discourse in late Capitalist Society

warga Britania kerasukan “late capitalism”

Semua terekam, dalam bahasa dalam wacana,

 

Secara empiris-lingual,  penyataan ini sulit ditolak

Kapitalisme mendewakan modal dan penumpuknya

komoditas jadi sel satuan dasar masyarakat kapitalis

Berharga dalam potensi jadi komoditas di pasar jual beli


Sehubungan dengan komodifikasi, Verschueren mencatat

Sejak dijadikan komoditas, muncullah ungkapan-ungkapan metaforis

Saving the time, running out of time,

giving someone a few minutes of your time

 

Mengapa beda dari Fairclough ada 3 alasan

Satu, Konsep Modern sebagai cara berpikir telah diperbarui

Dia telah dibarengi oleh posmodern bahkan hipermodern

Dua, Modern sebagai periode waktu dan tahap peradaban pasca tradisional

Ketiga, situasi kebahasaan dan keadaan bahasa Indonesia saat ini

Modern, posmodern, dan hipermodern bisa jalan berbarengan

warga pedalaman tak berbahasa Indonesia

Warga miskin kota tidak masuk pramodern

mampu berbahasa pemikirannya relatif

Perlu ditengok lagi, konteks mutahir bahasa Indonesia

Konteks berbeda dari Soempah Pemoeda,

Konggres Bahasa, dan Proklamasi kemerdekaan

    atau saat Tata Bahasa Baku diluncurkan

    di Konggres Bahasa Indonesia yang ke-4


Peradaban dan cara pikir telah berubah,

Globalisasi ekonomi, revolusi komunikasi

    hasrat menciptakan pasar tunggal

    sungguh telah mengubah dunia

Membawa Konteks Bahasa Indonesia berubah jauh ke sana

 

Modernisme, Posmodernisme, dan Hipermodernisme

Bincang-bincang ini diajukan oleh Gilles Lipovetsky.

Ia kemukakan konsep hipermodern

Setelah Modernisme dan Posmodernisme

sbagai cara berpikir peradaban manusia

 

Modernisme

Diawali Renaissance muncul ilmu pengetahuan mandiri

Tidak bergantung kepada agama, politik, dan moral

Gagasan Descartes Cogito ergo sum menegaskan kemandirian pikiran

Lalu Kant mengajak manusia modern

     melepaskan diri dari semua bentuk dominasi

     yang mendikte kebebasan

     munculkan humanisme progresif

     mengandalkan kemampuan manusia sendiri

 

Modernisme berdiri di atas tiga keyakinan

     satu kemajuan, dua rasionalitas, tiga kebahagiaan

Masyarakat modern bercirikan seperti ini

Percaya kemajuan membawa kebaikan

Jadikan Rasionalitas penopang kemajuan

Beriman ilmu pengetahuan-teknologi

Huxley bilang itulah agama tanpa wahyu

Ilmu pengetahuan-teknologi jalan kebahagiaan baru

 

Nyatanya modernitas gagal penuhi janjinya

Gagasan dan nilai modernitas alami krisis

Sadis, Rasionalitas dipermiskin jadi rasionalitas instrumental

Tindakan rasional hanya perhitungkan sarana efektif, mencapai tujuan

Rasionalitas sarana jadi dominan,

    tujuan jadi kabur tak karuan

Padahal nilai dan makna terkait langsung dengan tujuan

Hasilnya perang dunia I, perang dunia II,

Totalitarianisme, Goulag, kesenjangan utara-selatan

Itulah arogansi rasionalisme instrumental

Tragedi diperparah liberalisme ekonomi

   kalau dibaca lagi jadi kapitalisme

Mencari perluasan pasar, area bahan baku

Kebahagiaan, kemajuan rasio hilang maknanya

Kebutuhan ekonomi terpenuhi,

Tetapi kesenjangan justru melebar


Posmodernisme

Putus hubungan dengan modernitas itulah ide utamanya.

Situasi budaya baru, goyahnya dasar-dasar mutlak rasionalitas

Runtuhnya ideologi-ideologi besar sejarah

     yang runtuh adalah strukturalisme

     diawali oleh Saussure dipuncaki oleh Chomsky

     lahirlah pragmatik dan sosiolinguistik

     berideologi Fungsionalisme sebagai kritiknya

Di era ini Grands Recits diragukan

    ideologi dominan semua dipertanyakan 

    seperti Yudeo-Kristianisme,

    Hegelo-Marxisme,

    Sosialisme, progressisme,

    evolusionisme, universalisme,

    dan ideologi patriarki

Pembongkaran semua bentuk dominasi

 

Cirinya cenderung analogis, luwes, dan mengacu beragam makna

Nilai-nilainya toleransi, pluralitas, kebebasan, dan perdamaian

Tak terpisah demokrasi, filsafat HAM, kosmopolitansime

Ia ambil jarak terhadap tuntutan rasio yang mutlak

    dari pencarian akar kebenaran

 

Anut norma konsumerisme

     memusatkan diri pada hidup skarang ini

Pengaruh Konsumsi Massa,

     muncul individu ingin bebas sgala hambatan

Hanya pikirkan kenikmatan dan pemenuhan diri,

    ruang publik jadi perluasan ruang pribadi

 

Disiplin dan tekanan jadi barang basi,

   tapi berikan pilihan dan bangkitkan sensasi

   paksaan diganti bentuk komunikasi

Menganut kuat pola konsumsi,

   didukung canggihnya alat komunikasi massa

 

Melawan norma-norma otoriter dan disipliner,

    memusatkan peran individu dan kenikmatan

Hilang keyakinan masa depan revolusioner,

    tidak tertarik ideologi politik,

    tidak tertarik pemikiran militan

Itulah ciri masyarakat Posmodernisme

 

Hipermodernisme

Putus dari Modernisme adalah sia-sia

Berubah menjadi radikalisasi modernitas

Modernitas keterlaluan,

Modernitas yang berlebihan

 

Ciri-cirinya

Sangat individualis

Masuk dalam putaran globalisasi ekonomi

Dunia dilihat dari logika ekonomi

Semakin didominasi hukum pasar

Waktu semakin cepat semakin padat

Cenderung mencari kepuasan langsung

Singkirkan batasan norma kolektif,

    tujuan bersama, cakrawala bersama

Makna dipersempit jadi sekarang ini (hit et nunc)

Tindakan kolektif jadi kebahagiaan pribadi

Mengganti tradisi dengan mobilitas dan fleksibilitas

Geser harapan masa depan dengan memuja barang-barang baru

Gantikan hubungan real kedekatan dengan media tervirtualkan

Hidupi budaya urgensi, konsumsi, dan hedonisme

Cenderung tolak komitmen, ikatan kebodohan

 

Hipermodernisme bukan kematian Modernisme

    tapi justru motor trail gaspol mencapai puncaknya

Globalisasi liberalisme, komersialisasi gaya hidup,

     eksploitasi rasio instrumental yang keterlaluan,

     pengutamaan individu jadi samakin mengemuka.

Padahal modernitas dihambat institusi-instusi,

    yang pada akhirnya dibuat tak berdaya

Lalu jadi mandul dan tak berenergi

Individu seolah makin kuat tidak dipengaruhi

 

Hambatan pertama tradisi, kelompok masyarakat masih hidup

Keduanya agama, peran penting pembina hati nurani

ketiga ideologi politik, janji alternatif bebas dari kapitalisme

keempat ideal negara-bangsa, pembenaran terhadap pengorbanan warga negara

kelima negara urusi kegiatan ekonomi

  

Jejak Kapitalisme (Pos/Hiper) Modern  dalam Bahasa Indonesia

Masyarakat Indonesia sekarang, hidup dalam rentang panjang

Keberagaman berbagai peradaban

Sebagian mempertahankan masyarakat adat,

Sebagian baru tinggalkan adat menuju modernitas

    yang lain di Jakarta, lainnya di Batam

Telah menghidup udara pos/hiper modernitas

 

Globalisasi, dunia tanpa sekat

Batas-batas negara rubuh hancur brantakan

Semuanya jadi negara terbuka

Regulasi dijalankan WTO, kendali di negara Industri

Arahkan pilihan wajib

     kepada pasar bebas atau perdagangan bebas

Kehadiran kapitalisme modern

     seiring globalisasi, rapatkan jarak dan waktu,

     atasi kendala geografis menuju plosok dunia.

Dalam istilah Friedman dunia menjadi datar

    persaingan terbuka libatkan siapapun di bumi manapun

 

Bagi Frairclough gejala itu marketisasi wacana publik

Ruang-ruang publik telah berubah jadi belantara iklan

Setiap detik saatnya lakukan transaksi

Beli beli beli produk-produk perusahaan luar negeri

     atau dapat dibaca Kapitalisme modal asing

     kapitalisme baru buat jejaknya dalam bahasa Indonesia

Mulai dari tataran kebijakan hingga praksis bahasa

 

Berubahnya Ideologi Bahasa Indonesia

Jejak samar tapi amat mendasar

Wujud perubahan ideologi Bahasa Indonesia

Gagasan, keyakinan, Sesuai akal sehat

    jadi pendapat umum dan “Tampak Normal”

    jadi bawah sadar pikiran masyarakat

Jarang dipersoalkan, tak pernah disadari

Justru jadi bukti memang dia sedang efektif bekerja

 

Ideologi Bahasa tandai perencanaan status

     bahasa persatuan dan bahasa negara

Sepakat ditetapkan dalam Soempah Pemoeda

Digerakkan ideologi kebangsaan demokratis egaliter

Karena itu bahasa Indonesia jadi sebuah pilihan

Bukan Basa Jawa, Basa Sunda dan bahasa lainnya

Padahal penuturnya lebih banyak jumlahnya

 

Bahasa Melayu bahan dasar Bahasa Indonesia

    hanya berpenutur asli 4,5%.

Walau belum jelas sosoknya,

Diyakini lebih demokratis dan egaliter

   tak kenal tingkat tutur

   menjadi lingua franca

Dalam perdagangan di Nusantara

Dalam Sosiolonguistik ,

Penentu bahasa Indonesia jadi bahasa persatuan

   negara didasari “Ideologi” pribumisasi

Selain Vernakularisasi dikenal tiga ideologi lain

Linguitic Assimilation, Ada bahasa utama yang harus dipelajari semua

Linguistic Pluralism,  Memberi kesempatan pada semua bahasa yang ada

    dan Internationalism, Mengangkat bahasa nonpribumi jadi bahasa resmi pendidikan

Cobarrubias bilang proses penentuan bahasa pribumi jadi bahasa resmi.

Segi-segi sosio-politis-kultural, memartabatkan jati diri.


Jadi, bahasa Indonesia ada karena ideologi

Pada saatnya jadi nasionalisme,

Demokrasi, Jati diri, dan kesederajatan

Maka tulisan-tulisan utama sosiolinguistik Bahasa Indonesia

    jadi contoh Vernakularisasi

    seperti Tok Pisin di Papua Nugini

    Yahudi di Israel

    Tagalog di Filipina

    dan Quechua di Peru

 

Namun saat Bahasa Indonesia dikembangkan atau dimodernkan

Ideologi vernakularisasi harus berubah

Pilihan pasti berlawan prinsip, ia adalah Internasionalisme

    jadikan bahasa nonpribumi jadi bahasa resmi

Berbeda dengan Konsepnya Boeng Soekarno.

Beliau samakan internasionalisme dengan perikemanusiaan.

 

Internasionalisme bahasa Indonesia awalnya

Konsekwensi logis terbatasnya istilah

Bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

Kerja sama Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei

Telah ada 340.000 istilah bidang ilmu

Pusat Bahasa berhasil tambahkan 250.000 kata baru

Jadi ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu

     agar tidak terasing dari komuikasi keilmuan antarbangsa

Mayoritas berupa kata-kata naturalisasi

Penulisan dan ucupannya disesuaikan dengan kaidah

Tapi sosok asingnya masih terlihat jelas

Tak Ayal, Alif Danya Musyi nyatakan,

    9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah asing


Gencarnya Internasionalisme Lewat Iklan

Dominasi budaya dalam internasionalisme bahasa

Memprihatinkan tapi juga tidak terelakkan

Mengirim bahasa Inggris sampai ke pelosok desa

Lewat iklan di ruang publik sampai masuk ke rumah-rumah

Membuai hati masyarakat lewat jeda niaga siaran di ruang keluarga

 

Kapitalisme telah mengangkat kata-kata ajakan kenikmatan segera

Baru, Murah, Swalayan, Bermutu, Menghibur, Melegakan

Putih, bersih, sehat, halal, handal, banyak pilihan

Tampak muda, tampak cantik, perkasa, mempesona

Selera, untung, mewah, enak, lezat, aman, nyaman

Irit, angsuran ringan, nikmat, berkelas, serta puas

 

Begitu pula penjualan dilakukan lewat wacana yang menarik

Make an impact on the next generation

Promising futures

Kapasitas seperti what your ambition, energy

Teaching excellece, expertise, dynamic, forward looking

Lazim juga di Indonesia

 

Masuk dengan gencar kata-kata asing tanpa naturalisasi

Celluler, -cell, -net, laundry, hand phone, miss call

    On line, off line, download, upload, shop, cafe market, 

    supermarket, whitenning, skin care, facial care

    Antiaging, credit, garansi, print, -tronics, center, centre

   Jeans, t-shirt, fried chicken, property, fashion, villa, estate

Tentu saja discount

Susunan frasa dalam bahasa Inggris masuk jadi pilihan

Maya Salon, Permata Estate, Istana Hotel, Sarah Catering

Bagus Studio, Lava Tour, Jakarta Fried Chicken, Nova Wedding Organizer

Pasar perlu yang seksi, catchy, dan sensasional

 

Budaya Kosumsi makin meluas

Mentalitas terjajah hargai apapun yang berbau luar negeri

Runtuh tradisi runtuh bahasa ibu, dipandang tak bergengsi

Nasionalisme hampa bukan ideologi dan komitmen bersama

Dari lubuk hati masyarakatnya, dari lubuk hati warga negara

 

Merebaknya Internasionalisme lewat Internet

Percepatan Globalisasi Revolusi 3T

Telekomunikasi, Transportasi, Turisme

Internet jadi faktor kunci telekomunikasi

Internet jadi ruang maharaksasa

Memajang dan menawarkan aneka barang lintas negara

Peradagangan secara elektronis

Murah meriah lincah

Murah meriah lincah

Cah cah cah cah

 

Internet mendorong produksi teks

Pengguna internet terus meningkat

Meroket 75% rumah di AS tahun 2006

750 juta pengguna tahun 2007

2008 diperkirakan 1,3 miliar

2012 di Indonesia mencapai 63 juta orang

 

Dominasi bahasa Inggris dikhawatirkan

Jacques Chirac 1996, a major risk of humanity

Jim Erickson Cyberspeak:  the death of diversity

Will the English dominated internet spell the end of the other tongues?

World Wide Web tahun 2000 capai 320 juta laman

80 % pakai bahasa Inggris

Dia masih Lingua Franca di Internet

 

Boleh juga disebut pemicu

Agar Orang Indonesia kuasai bahasa asing

Ajang berkomunikasi sebanyak-banyaknya

Bertegursapa lewat dunia maya

Tampilkan diri panjang lebar secara ilmiah

 

Langgengnya Imperialisme Bahasa

Imperialisme Bahasa istilahnya Phillipson

Mengemas kritik tajamnya pada penyebaran bahasa

Lewat pengajaran dan kursus-kursus

Amat gencar di pertengahan abad 20

Pendudukan Militer, Penjajahan

Penyebaran, kegiatan kebudayaan

Pendidikan dan lembaga bantuan

 

Phillipson melihat potensi menebar bahaya

Pertama, agenda ekonomi politik

Seputar hasrat keuntungan dan kekuasaan

O Bagi Mosco, komunikasi bukan skadar penyampaian data

Tapi produksi makna secara sosial

Komunikasi bahasa selalu dalam ruang pertarungan untung dan kuasa

 

Kedua, Ideologi struktur

Praktik untuk meligitimasi

Mengefektifkan, mereproduksi pemilahan

Tidak imbang atas kuasa dan sumber daya

    material dan non material

    antar kelompok antar bahasa

Canagarajah bilang dominasi Bahasa Inggris

Penyebab adanya kesenjangan

 

Ketiga, agen-agen budaya barat

Agen-Agen British Council dan United State Information Agency

Selama perang perang dingin dicurigai oleh Phillipson

Sentimen politis, pengaruh budaya

Rasuki individu hingga dunia

Petaka budaya dituai bangsa manusia

Jika keseragaman budaya yang jadi tujuannya

Keseragaman itu agenda, itu keuntungan, itu kuasa

 

Namun ia kuat lewat sekolah

Program rintisan sekolah bertaraf internasional

Kelatahan yang konyol

Persaingan Global tak cukup hanya dengan belajar bahasa Inggris

Dalam Matematika dan IPA

Bukankah kita punya kekayaan lokal dan membawanya ke penjuru dunia

 

Ancaman Terhadap Bahasa Baku

Cara-cara berpikir untuk mempermudah

Bahasa dianggap sebagai sebuah pelayanan

Singkirkan hambatan dari segala norma

    Otoriter disipliner,

    Tak ada lagi tujuan bersama, cakrawala bersama

    Tak ingin Kolektif tak terikat  komitmen fiktif

     Lebih suka hibrida

    Campur-campur bahasa lebih hemat lebih lugas

Diupload didownload, membrowsing didelete

Dalam jangka yang panjang

     ada luruh konsonan /k/ /p/ /t/ /s/ dilekati awalan me(N)-

Muncul pula bahasa privat, bahasa perorangan

Ringkas ekspresif dan pribadi

Masing-masing orang bebas membuat singkatan

    Ragam bahasa 4l4y nampak dalam penulisan

Dari satu kesemapatan ke yang lainnya

Dari satu orang ke yang lainnya

Semuanya jelas beda

Suka-suka seenaknya

Mempermudah komunikasi

Abai dalam penulisan

Dan disebut pelayanan

 

PENUTUP : Masih Adakah “Keajaiban Ketiga”?

Keajaiban itu pernah terjadi

Sutan Takdir Alisjahbana bersaksi

Bahasa Melayu bahasa persatuan

Sumpah pemuda 1928

Dia disebut bahasa Indonesia

Nyaris tanpa keberatan

Baik Jawa dan Sunda

Bali dan daerah lainnya

Tidak inginkan aromaTribalisme,

   yang menjelma wujud pertumpahan darah

STA menyebutnya “Mukjizat abad ini”

 

Keajaiban kedua lebih gila

Joshua Fishman-lah saksinya

Penambahan kosa kata baru

Cepat dan besar-besaran

   bahasa sains bahasa pengetahuan

   bahasa ilmiah dan seni tahun 1978

Jerome Samuel sejarawan Prancis

Menyebut dengan sinis

Bahasa Indonesia “Sama saja dengan bahasa baru”

 

O itu sampan kecil berlayar di luas samudra

Ombak kapitalisme bergelora dengan ganasnya

Bahasa Indonesia di tengah Kapitalisme

Untuk keselamatan butuh keajaiban

 

UU No 24 Tahun 2009 menjadi dasar

Kelola Bahasa Indonesia dan Bahasa-Bahasa di Indonesia

Pusat bahasa jadi Badan Pembinaan dan Pengembangan

Lalu bangun Balai Bahasa di semua provinsi

Ratusan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Baik di keguruan dan non keguruan

di seluruh universitas dan institut Indonesia

 

PP No.16 tahun 2010

Tentang penggunaan Bahasa Indonesia dalam pidato resmi

Presiden dan wakilnya serta semua pejabatnya

RPP Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan

Bahasa dan Sastra serta Rancangan Perpres

Tentang Penggunaan Bahasa

Dukungan Kebijakan

Dukungan kelembagaan

Bagi keberadaan dan juga pemantapan

 

Ituah Keajaiban Ketiga yang menjamin keselematan sampan kecil Bahasa

Di tengah Arus Ganas  Kapitalisme Posmodern Hipermodern

Selama masih ada yang setia, dengan penuh rasa bangga,

Akan terus adakan kejaiban ketiga, keempat, kelima dan seterusnya


No comments:

Post a Comment

Bahasa Pemersatu #2

Puisi ini disusun dari esai berjudul, "Bahasa Indonesia di tengah Kapitalisme (Pos/Hiper) Modern : Masih Adakah “Keajaiban Ketiga?...